Oleh: wahdahsamarinda | Juni 11, 2007

DZIKRULLAH

Dzikrullah

Oleh: Ust. Ahmad afwan Abdurrahman,Lc.MA

Ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca alqur’an adalah dzikruillah dan menyampaikan segala kebituhanmelalui do’a yang tulus kepada Allah swt.
Dari nabi Saw beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman,Aku beseta hambaku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak meyebutku.”(HR.Ahmad dan Ibnu Majah).
Kita selalu berdzikir setiap saat dan tidak boleh berkhayal kepada hal-hal yang dapat merusak alam pikiran kita, kapan kita selalu berdzikir, yaitu dimana waktu terdapat yang dituntunkan oleh Rasulullah saw.
Namun pada saat ini telah tersebar dzikir yang beupa nyanyian yang ini semuanya tidak pernah dituntunkan oleh rasulullah saw, berdzikir yang benar adalah dengan tidak dinyaringkan kecuali pada waktu-waktu tertentu yang dituntunkan oleh Rasululah saw, seperti : adzan dan kalimat talbiyah pada saat haji.
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah segolongan orang mengingat Allah, melainkan para malaikat menghormati nmereka, rahmat menyelubungin mereka, ketenangan turun kepada mereka dan Allah mengingat mereka orang-orang yang ada diisi-Nya.”1)
Dzikir juga berlaku pad majlis dzikir, yang didalamnya mempelajari dan mengkaji alqur’an dan asunnah.2) Dan bukan dzikir yang ada pada saat sekarang ini, dimana mereka berdzikir dengan membaca alqur’an atau doa, wirid dan kalimat toyyibah dengan dipimpin oleh salah seorang immam dengan suara keras atau yang lebih dikenal dengan dzikir berjama’ah. Dimana dzikir ini tidak pernah ada pada masa sahabat, hal ini berdasarkan atsar berikut:
“Amr bin ash berkata: “Kami duduk-duduk didepan Abdullah bin mas’ud, sebelum sholat subuh, ketika beliau keluar kami mengiringinya pergi kemasjid,. Lalu tiba-tina Abu musa al asyari mendatangi kami dan bertanya: Apakah abu abdirrahman (ibnu mas’ud) sudah keluar (dari masjid)? Kami jawab:”belum” lalu beliau duduk bersama kami. Kemudian keluarlah ibnu mas’ud, kami semua berdiri mengerumuni beliau. Abu musa berkata kepada ibnju mas’ud:”wahai abu abdirrahman , tadi aku melihat suatu perkara yang aku ingkari namun akiu menganggap-Segala puji bagi Allah- hal itu adalah baik”. Kata ibnu mas’ud:”apa itu?” jawab abu musa: “Jika engkau berumur panjang engkau akan mengetahui, aku tadi melihat kelompok orang dimasjid, mereka duduk berhalaqoh (kelompok), menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang sedang ditangan mereka terdapat kerikil, lalu pemimpin tadi berkata:”Bertakbirlah seratus kali.” Maka merka bertakbir seratus kali, “baertahlillah seratus kali” maka mereka bertahlil seratus kali,” bertasbihlah seratus kali “, maka mereka bertasbih seratus kali. Ibnu mas’ud bertanya, “Apa yang kamu katakan kepada mreka ? Abu musa menjawab:”Aku tidak bilang apa –apa, aku menanti pendapatmu”, kata Ibnu mas’ud:”tidaklah kamu katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan merka tidak akan disia-siakan. “Lalu Ibnu mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun ikut, sehingga sampai ditempat itu. Ibnu mas’ud bertanya kepada mereka:”Benda apa yang kalian pergunakan ini ? mereka menjawab:”Kerikil , wahai abi abdirrahman, kami bertakbir, tahlil dan bertasbih dengannya”, timpal ibnu mas’ud:”hitunglah kesalah-kesalahan kalian , saya jamin kabaikan kalian tidak akan sia-sia sedikitpun, celaka kalian wahai umat muhammad, betapa cepat kebinasaan kalian (itu) mereka, para shabat nabi kalian masih banyak bertebaran, ini baju beliau belum rusak, dan bejananya belum pecah, demi Dzat dan jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh kalianberada dalam suatu agama yang lebih bnar ketimbang muhammad, atau kalian pembuka pntu kesaesatan”, mereka menjawab:”Wahai abu abdirrahman, kami tidak mengehndaki kecuali kebaikan”, jawab ibnu mas’ud:”betapa bnayak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak mendapatkannya.”3)
Inilah yang mendasari pengingkaran ibnu mas’ud terhadap perkara ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw, dan darii hadits diatas juga sebagain contoh janganlah alqur’an itu ditafsirkan dengan akal kita, akibatnya akan fatal dan terjadilah perkara baru dalam syariat, Imam Al baihaqi meriwayatkan dari Jundab bin abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa mengatakan sesutu tentang alqur’an menurut akal pikirannya sendiri(ro’yi), dan kebetulan tepat, maka sesungguhnya ia telah bersalah.”4)
Dan menafsirkan alqur’an tanpa tuntunan yang benar dari para salafus halih ,ini jelas berbahaya.
Rasulullah saw ketika setelah shalat di raudhah beliau selalu melakukan majelis dzikir yaitu mempelajari Alqr’an dan saling belajar diantara arti dan maksudnya sehingga para sahabat benar-benar faham serta mengamalkannya.5)
Majelis-majelais dzikir seperti inilah yang dituntunkan oleh rasulullah saw dimana pada zaman sahabat, Abu huraiorah mengumumkan tentang peninggalan harta Rasulullah yang akan dibagi-bagikan. Imama Al haitsami mengutip kisah abu hurairah ini :
“Abu hurairah melewati pasar madinah, lalu ia berhenti ditempat itu, ia berkata, “Wahai penghuni pasar, alangkah tidak mampunya kalian”, Mereka menimpali, “Apa itu wahai wahai abu hurairah?”ia menjawab,” itu peninggalan Rasulullah sedang dibagi-bagi, sedangkan kalian ada disini? Tidakkah kalian mendatanginya, lalu mengambil bagian kalian?” mereka bertanya, “Dimanakah dia?” Abu hurairah menjawab, “di masjid”. Maka mereka pun bergegas kelaur menuju masjid, sedang Abu hurairah ia tetap berdiri menunggu mereka kembali, ia bertanya kepada mereka , “Apa yang kalian dapati?” “Mereka menjawab, “Wahai abu huarirah, kami telah mendatangi masjid dan memasukinya , namun tidak melihat sesuatu sedang dibagi disana.” Abu hurairah berkata , “Tidaklah kalian melihat sesorang di masjid?”Mereka menjawab, “Benar, kami melihat sekelompok orang sedang shalat, sekelompok membaca alqur’an dan sekelompok lainnya sedang mempelajari halal dan haram.” Abu hurairah berkata:”celakalah kalian, itulah peninggalan rasulullah saw.”6)
Manusisa yang betobat bukan dengan cara dzikir berjama’ah dan menangis bersama. Tentunya cara seperti ini tidak akan diterima dan menyelisihi Sunnah Rasulullah saw.7)
Dan hendaklah dzikir mengingat Allah dengan menyebut melalui lisan kita dan beramal dengannya. Karena Rasulullah bersabda:”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”8)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: